Dapatkah Indonesia Bersaing?

Dapatkah Indonesia Bersaing?

Pada beberapa sesi perkuliahan sebelumnya, kita telah membahas posisi Indonesia di dalam hal produktivitas marjinal (marginal productivity) berdasarkan daya beli (Purchasing Power Parity (PPP)) dibandingkan negara-negara tetangga, khususnya di wilayah Asia dan Asia Tenggara (ASEAN). Yang perlu digarisbawahi di sini bukan hanya ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara-negara tersebut, melainkan juga terkait kesempatan-kesempatan yang ada bagi Indonesia dengan mulai berubahnya rantai pasok global (global supply chain) yang lebih terdesentralisasi.

Tabel 1. Perbandingan Indikator Daya Saing di Beberapa Negara di ASEAN dan ASEAN+3

Produktivitas sebuah negara adalah faktor yang sangat penting dalam penempatan daya saing negara tersebut secara regional dan global. Selain itu, produktivitas merupakan ukuran yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menentukan tempat pembangunan pabrik berikutnya. Marginal productivity Indonesia berdasarkan penghitungan PPP yang telah disesuaikan berada di angka USD 23.541. Angka ini lebih rendah dibandingkan Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara tersebut telah mampu fokus pada bagaimana memproduksi barang dan jasa yang berada di rantai nilai (value chain) yang tinggi, yang biasanya memiliki nilai marjinal (tambahan) ekonomi yang lebih tinggi.

Marginal productivity sebuah negara menentukan kemampuan untuk memproduksi secara kompetitif barang dan jasa, baik untuk ekspor maupun kebutuhan domestik. Populasi dan ekonomi Indonesia, yang kira-kira berada di kisaran 45-49% dari seluruh negara di kawasan ASEAN, akan diuntungkan apabila memiliki marginal productivity yang lebih tinggi, baik secara domestik maupun internasional.

Walaupun telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, Tabel 1 di atas merupakan gambaran bahwa Indonesia telah tertinggal di dalam kaitannya dengan daya saing akibat beberapa faktor, mulai dari tenaga kerja hingga teknologi digital.

Gambar 1. Perbandingan Produktivitas Tenaga Kerja di ASEAN dan ASEAN+3

Pertama, Indonesia memiliki sejarah tidak menggelontorkan banyak dana pada bidang pendidikan hingga pada akhirnya dimandatkan oleh Undang-Undang (UU) di tahun 2009, di mana 20% dana APBN harus dialokasikan untuk pendidikan. Sejarah tidak menggelontorkan banyak dana untuk pendidikan telah berpengaruh kepada kemampuan Indonesia untuk menggunakan dana pendidikan secara tepat sasaran, baik di dalam aspek infrastruktur maupun perangkat lunak pendidikan, termasuk juga di dalam bidang riset dan pengembangan teknologi.

Kecilnya pengeluaran negara di dalam sektor pendidikan selama bertahun-tahun terlihat di dalam prestasi Indonesia di dalam bidang matematika, ilmu pengetahuan, dan membaca. Hal ini kemungkinan besar merupakan sebab utama mengapa Indonesia tidak mampu membuat paten dan pencapaian pendidikan dari negara-negara lain di kawasan ASEAN dan Asia.

Gambar 2. Persentase Pencapaian Pendidikan Populasi Berumur 25+ dan Jumlah Kumulatif Paten

Gambar 3. Peringkat dan Nilai Program for International Student Assessment (PISA) di Beberapa Negara di ASEAN and ASEAN+3

Peningkatan persentase alokasi dana pendidikan yang signifikan belakangan ini (dari angka satu digit yang sangat rendah) didukung juga oleh kenaikan yang berkesinambungan dari ruang fiskal, sehingga mengakibatkan jumlah dana yang dialokasikan untuk pendidikan semakin besar.

Pendapatan Indonesia dari pajak juga telah meningkat secara signifikan, dari Rp116 triliun di tahun 2000, menjadi Rp1.786 triliun di tahun 2019. Dengan rasio pajak (rasio dari pendapatan dari pajak terhadap PDB) sebesar 11%, ruang fiskal, khususnya terkait langsung dengan dana pendidikan, akan dipastikan terus meningkat dengan kebijakan fiskal proaktif untuk meningkatkan pendapatan pajak negara.

Gambar 4. Ruang Fiskal Indonesia (dalam triliun Rupiah)

Kedua, inklusi keuangan yang selalu rendah (49%, dibandingkan Singapura yang sebesar 98%) tidak membantu rakyat untuk mendapatkan akses modal untuk merealisasikan ide-ide kewirausahaan mereka. Akses kepada modal ini merupakan faktor dominan untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha dan juga produktivitas. Banyaknya penyedia modal teknologi yang masuk ke Indonesia, dan juga meningkatnya kemampuan teknologi mobile untuk menggunakan internet, telah membantu membangkitkan pembicaraan dan transaksi yang diprediksi dapat meningkatkan inklusi keuangan di dalam waktu dekat ini.

Beberapa perusahaan yang bergerak di dalam bidang teknologi di Indonesia, termasuk yang bergerak di bidang penyedia jasa transportasi bersama dan penyedia jasa keuangan murni telah mulai memberikan fasilitas untuk memberikan pinjaman, baik secara institusi maupun peer-to-peer secara terukur. Walaupun menjanjikan di dalam meningkatkan inklusi keuangan, tingginya angka kredit bermasalah telah membuat beberapa perusahaan ini lebih berhati-hati di dalam melanjutkan penyelenggaraan jasa memberi pinjaman ini.

Tabel 2. Penetrasi Digital di Negara ASEAN, 2018

Ketiga, likuiditas yang semakin luas (kira-kira lebih dari USD100 triliun) lebih banyak dapat diakses di negara-negara dengan ekonomi maju, sehingga tidak adil bagi negara-negara dengan ekonomi yang masih berkembang yang membutuhkan likuiditas tersebut. Likuiditas yang sampai kepada negara-negara ekonomi berkembang sayangnya hanya berhenti pada sektor keuangan, bukan pada sektor dan komponen riil dari ekonomi negara-negara tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari proporsi inflasi dari aset keuangan (pasar modal) yang lebih besar dari ekonomi riil. Kurang terdistribusinya secara baik likuiditas di dalam ekonomi telah mempengaruhi secara negatif terhadap produktivitas suatu negara, serta kemampuan negara di dalam mendistribusikan secara baik kesejahteraan dan kesetaraan (rasio koefisien Gini) dan juga berimbas kepada produktivitas.

Covid-19 telah mengakibatkan negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan respons kebijakan yang berbeda-beda, yang mengkombinasikan kebijakan fiskal dan moneter. Kebanyakan negara ekonomi berkembang memilih untuk menerapkan kebijakan moneter modern, diantaranya dengan melakukan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), yang akan meningkatkan likuiditas di pasar negara masing-masing. Peningkatan likuiditas ini ditujukan kepada equity dan perangkat pinjaman di dalam pasar modal, yang kemungkinan akan menyebabkan semakin terpisahnya ekonomi sektor riil dan pasar modal.

Pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan yang berbeda dari negara-negara ekonomi berkembang pada umumnya, di mana kebijakan yang diambil lebih condong kepada kebijakan fiskal dan ditargetkan lebih berat untuk sisi permintaan dibandingkan sisi pasokan di dalam ekonomi. Dengan demikian, negara akan lebih rentan kepada dinamika pertumbuhan ekonomi yang lemah dan produktivitas yang rendah di dalam waktu dekat ini.

Gambar 5. Inflasi Sektor Riil dan Keuangan (Indonesia dan Amerika Serikat)

Keempat, selain fokus kepada aset finansial, investasi langsung luar negeri kepada sektor riil telah meningkat dari USD16,4 miliar menjadi USD28,2 miliar di tahun 2019. Pembentukan modal ini tidak hanya telah membantu menciptakan lapangan kerja dan stabilitas sosial, namun juga membantu Indonesia naik di rantai nilai. Investasi langsung luar negeri per kapita yang sebesar USD91,3 USD pada tahun 2019 masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara tetangga (USD18.702,8, USD271,8, USD162,2, dan USD92,1, untuk Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Filipina secara berurutan) dan mempengaruhi peningkatan produktivitas marjinal negara tersebut.

Walaupun angka investasi langsung luar negeri per kapita Indonesia tidak jauh berbeda dengan Filipina, perbedaan mencolok di antara kedua negara adalah kemampuan untuk menerima pengiriman uang dari warga yang sedang bekerja di luar negeri. Transfer uang yang masuk ke Filipina berjumlah cukup besar, yaitu sebesar USD35,2 miliar di tahun 2019 (dibandingkan dengan Indonesia yang hanya berjumlah USD11,7 miliar), menunjukkan kualitas pendidikan yang telah membantu warganya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di luar negeri dibandingkan warga Indonesia.

Gambar 6. Perbandingan Investasi Langsung Luar Negeri Beberapa Negara ASEAN

Bagaimana Indonesia akan Bersaing?

Pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung telah meningkatkan keprihatinan Indonesia terkait produktivitas marjinal yang dimiliki. Runtuhnya permintaan agregat global akan mengakibatkan dinamika pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah di waktu mendatang. Ditambah dengan disrupsi dan usaha-usaha untuk melakukan desentralisasi dari rantai pasokan akan mengakibatkan produktivitas yang semakin rendah.

Kendatipun Indonesia perlu memperhatikan faktor-faktor yang telah disampaikan sebelumnya, Indonesia memiliki alasan untuk terus positif dan optimis.

Pertama, melihat 25 tahun dari sekarang (hingga tahun 2045), akumulasi dana yang digelontorkan Pemerintah untuk bidang pendidikan akan mencapai Rp64.000 triliun (atau USD4 triliun menggunakan kurs saat ini). Jumlah ini didapatkan dengan berasumsi bahwa pemerintah akan tetap mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan, dan pemerintah dapat mempertahankan rasio pajak sebesar 11% hingga tahun 2045.

Apabila pemerintah mampu meningkatkan pendapatan dari pajak (yang akan berimbas kepada rasio pajak), jumlah yang telah disebutkan hanya akan menjadi semakin besar.

Kunci dari terjadinya hal ini adalah bahwa Indonesia dapat terus mempertahankan perdamaian, serta stabilitas sosial dan makroekonomi di dalam 25 tahun ke depan. Indonesia dan wilayah ASEAN telah mengalami banyak tantangan di dalam 2.000 tahun terakhir, dengan memperlihatkan ketahanan, yang didapatkan dari berbagai macam pengaruh, baik itu dari agama, kolonialisme, kemerdekaan, demokratisasi, dan krisis ekonomi/keuangan.

Dengan meningkatnya pengaruh digitalisasi, yang diprediksi akan semakin mempermudah penarikan pajak dan kesadaran/keinginan politik untuk mengurangi rasio pajak, Indonesia dapat meningkatkan rasio pajak dari 11% menjadi 20% di dalam kurun waktu 25 tahun. Hal ini akan membantu kualitas dan kuantitas pendidikan, dan akan berimbas positif kepada peningkatan kesejahteraan pada umumnya.

Kedua, Indonesia seharusnya dapat membangun narasi pendidikannya dengan menggunakan bidang ilmu yang lebih luas, dengan penekanan kepada STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), kemampuan-kemampuan vokasi, riset dan pengembangan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat global, dan akuntabilitas/keterukuran pengeluaran untuk pendidikan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Covid-19 telah mengajarkan kepada kita bahwa umat manusia sedang bertransisi ke mode hidup yang sama sekali berbeda. Di mana kontak fisik dan berkumpul akan lebih dibatasi, dan akan lebih bersifat digital atau virtual di waktu mendatang. Walaupun belum tentu menjadi gaya hidup kita seterusnya, Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi dunia digital, bukan saja sebagai konsumen, namun juga sebagai pengembang dan pemilik.

Totalitas kepada pengembangan STEM akan membutuhkan kader dan guru-guru terbaik dari dalam maupun luar negeri untuk mengedukasi generasi kini dan mendatang. Walaupun ada kemungkinan Indonesia kekurangan guru-guru berkualitas tinggi di dalam bidang STEM, kebijakan lebih terbuka yang dapat mendatangkan guru-guru terbaik dari seluruh dunia menjadi sebuah keharusan.

Ketiga, Indonesia memiliki demografi yang muda (50% dari populasi berumur lebih rendah dari 29 tahun) dan akan seperti itu hingga 20 tahun ke depan. Dengan investasi yang tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, demografi yang muda dapat membantu meningkatkan daya saing Indonesia jangka menengah dan panjang.

Tenaga kerja di Indonesia berjumlah sekitar 130 juta jiwa, dan sekitar 95% berada di industri mikro, kecil, dan menengah, yang masuk ke dalam kategori demografi muda. Fokus unutk mendidik seluruh demografi tidak hanya akan membantu memperbanyak jumlah tenaga kerja secara domestik, namun membantu mereka melakukan ekspansi ke luar negeri dan secara ekonomi.

Gambar 7. Profil Demografi Indonesia dan Dunia

Keempat, dibandingkan Indonesia, profil demografi dunia justru menjadi semakin tua. Dengan demikian, jumlah simpanan akan meningkat secara global. Dengan meningkatnya jumlah simpanan di seluruh dunia, sedangkan jumlah kelas aset yang dapat dinvestasi akan cenderung konstan, nilai mata uang atau modal akan berkurang. Ini akan menguntungkan beberapa pihak, khususnya para pengusaha, yang membutuhkan modal – tentu dengan mempertimbangkan kemungkinan meningkatnya produktivitas marjinal.

Kelima, selain penambahan alokasi dana yang cukup signifikan untuk pendidikan, Indonesia akan mengalokasikan jumlah yang signifikan terhadap pembangunan infrastruktur (rata-rata 15-20% APBN telah dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pada beberapa tahun terakhir). Indonesia diestimasikan akan menggelontorkan Rp32.000-48.000 triliun (atau USD2-3 triliun dengan kurs saat ini) untuk pembangunan infrastruktur di dalam 25 tahun ke depan. Hal ini diperkirakan dapat meningkatkan konektivitas, yang akan berimbas kepada produktivitas.


Gambar 8. Peringkat dan Nilai Indeks English Proficiency

Keenam, Indonesia tidak pernah kekurangan narasi yang layak. Namun, yang dibutuhkan untuk maju adalah sesorang atau kelompok yang dapat mengartikulasikan narasi tersebut kepada dunia. Hal ini sangat penting di dalam beberapa faktor.

Sebuah narasi yang baik di dalam menceritakan masa depan Indonesia akan mengakibatkan peningkatan aliran modal (keuangan, teknologi, dan manusia) untuk membangun kemampuan industri manufaktur dan jasa Indonesia untukn dapat menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan, baik di dalam maupun luar negeri.

Kesimpulannya, masa depan Indonesia harus dilihat secara jangka panjang. Perkembangan Covid-19 adalah sebuah disrupsi yang seharusnya tidak merubah arah pembangunan jangka panjang Indonesia, selama kita terus fokus kepada yang baik dan penting. Baik dalam artian Indonesia memiliki produktivitas marjinal yang tinggi, yang akan berimbas kepada kemampuan yang semakin baik untuk melibatkan populasinya di dalam memproduksi barang dan jasa yang akan dibutuhkan di dalam dan luar negeri.

Penting di dalam artian bahwa sebuah narasi yang baik dibutuhkan untuk membantu Indonesia untuk menghubungkan Indonesia dengan masyarakat global, khususnya di dalam aspek sejarah geopolitik dan masa depan. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, populasi terbesar keempat, dan berpotensi menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia, Indonesia seharusnya layak untuk memiliki bagian penting di dalam membangun dan membentuk percakapan regional dan juga global.

Terpenuhinya semua, atau kebanyakan poin di atas, akan membantu meningkatkan produktivitas marjinal, kehadiran geopolitik dan daya saing Indonesia.



Gita Wirjawan served as Indonesia’s minister of trade from 2011 to 2014, and is chairman of the advisory board of the School of Government and Public Policy Indonesia.

You need to login to write a comment!