Mencari antivirus baru untuk Covid-19 dari keanekaragaman hayati tumbuhan Indonesia

Di tengah keraguan akan keberhasilan pengembangan vaksin, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan luar biasa yang dapat dijadikan sumber untuk mencari obat-obatan antivirus baru untuk melawan pandemi Covid-19.

Mencari antivirus baru untuk Covid-19 dari keanekaragaman hayati tumbuhan Indonesia

Pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 ini telah mengubah tatanan hidup di Indonesia dan dunia pada banyak aspek, seperti aspek ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Perubahan dan alternatif solusi pada aspek ekonomi telah kami bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya. Pada tulisan kali ini, kami akan membahas pandemi Covid-19 dari aspek ilmu pengetahuan dan riset, khususnya usaha untuk menanggulangi pandemi ini dengan mengembangkan obat-obatan baru berbasis tumbuhan.

Kendala di dalam pencarian dan pengembangan vaksin baru

Untuk menanggulangi pandemi Covid-19, riset dan pengembangan untuk mencari vaksin telah dilakukan. Hingga bulan April 2020, telah ada 115 proyek vaksin yang telah berjalan, di mana 78 proyek aktif, sedangkan 37 proyek tidak diketahui statusnya. Dengan kecepatan riset dan pengembangan sebagai respons untuk mencari vaksin untuk Covid-19 ini, sebuah vaksin sementara diharapkan telah tersedia di tahun 2021.

Ada tiga teknologi vaksin yang sedang dikembangkan, yaitu: whole virus vaccines, recombinant protein subunit vaccines, dan nucleic acid vaccines. Ketiga metode ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Vaksin-vaksin yang sedang dikembangkan untuk melawan Covid-19 masih harus diteliti lebih lanjut karena justru berpotensi membahayakan. Penyebabnya adalah antibody-dependent enhancement atau cell-based enhancement, di mana vaksinasi justru akan meningkatkan risiko apabila seseorang terinfeksi oleh virus yang sama dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Untuk menjamin keamanan dan efektivitas penggunaan vaksin baru, dibutuhkan penelitian yang lebih detil dan terukur.

Peran antivirus di dalam melawan pandemi Covid-19

Oleh karena itu, saat ini, untuk menghadapi pandemi Covid-19, dunia masih bergantung kepada obat-obatan yang memiliki aktivitas antivirus yang telah ada. Baik obat-obatan untuk penyakit ebola, HIV, dan malaria.

Belum ada obat antivirus komersial yang ampuh untuk melawan virus Covid-19. Berdasarkan sebuah penelitian di Wuhan, hydroxychloroquine (HCQ) yang disebut dapat melawan virus SARS-CoV-2, menunjukkan efek dapat mempercepat waktu penyembuhan pasien Covid-19. Namun, berdasarkan penelitian yang sama, HCQ juga dapat menimbulkan reaksi negatif kepada pasien. Ada banyak hal yang tidak dapat membuat penelitian ini menjadi rujukan untuk menggunakan HCQ untuk diberikan kepada pasien Covid-19, di antaranya adalah populasi percobaan yang sangat kecil, yaitu 62 pasien dan tidak adanya data penting seperti kardiogram pasien di dalam penelitian atau placebo control.

Selain dari itu, penelitian-penelitian lain, yang dirangkum oleh Professor Vinetz dari Universitas Yale, menunjukkan bahwa HCQ tidak dapat digunakan secara efektif untuk melawan virus Covid-19, dan bahkan dapat mempengaruhi fungsi jantung.

Selain HCQ, beberapa obat-obatan antivirus lain telah digunakan untuk mengobati pasien Covid-19, seperti chloroquine, lopinavir/ritonavir, favipiravir, remdesivir, nitazoxanide, dan ivermectin. Namun di antara semua antivirus yang telah tersedia tersebut, tidak ada yang 100% definitif dapat digunakan untuk melawan Covid-19. Di samping hasil-hasil penelitian yang menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut tidak memiliki efek signifikan untuk melawan virus Covid-19, penelitian-penelitian yang menunjukkan efek positif terhadap virus Covid-19 tidak disertai oleh data yang cukup atau model percobaan yang tidak sempurna.

Keanekaragaman hayati tumbuhan sebagai sumber potensial obat-obatan antivirus baru

Oleh karena sulitnya mengembangkan vaksin dan tidak efektifnya obat-obatan antivirus yang ada, obat-obatan baru yang dapat melawan Covid-19 perlu dicari dan dikembangkan. Salah satu sumber potensial yang dapat digunakan untuk mencari obat-obatan baru tersebut adalah keanekaragaman hayati tumbuhan. Campuran dari tumbuhan telah digunakan sebagai obat di masyarakat secara tradisional di seluruh belahan dunia. Cina memiliki kultur yang kuat di dalam menggunakan tumbuhan obat melalui Obat Tradisional Cina (OTC) yang berumur ribuan tahun. Sama seperti Indonesia yang memiliki kultur menggunakan jamu-jamuan.

Hingga saat ini, Cina masih menggunakan OTC untuk mengobati penyakit. Bahkan OTC digunakan juga untuk mengobati pasien yang terjangkit Covid-19. Ramuan OTC yang digunakan untuk mengobati pasien yang terjangkit Covid-19 didasarkan kepada buku Zhang Zhonjing yang ditulis pada abad ke-2 Masehi. Di dalam buku tersebut, Zhonjing membuat ramuan untuk membersihkan dan mendetoksifikasi paru-paru (rebusan pembersih dan detoksifikasi paru-paru; RPDP) yang terdiri dari 21 bahan yang berbeda. Dapat dipastikan bahwa di dalam RPDP mungkin terdapat ratusan senyawa yang saling berinteraksi dan membantu melawan Covid-19 di dalam tubuh.

Cina memiliki regulasi yang mengintegrasikan sistem kesehatan nasionalnya dengan OTC. Oleh karena itu RPDP telah diuji coba secara klinis dan direkomendasikan secara resmi sebagai obat pendamping untuk pasien yang terjangkit oleh Covid-19. Penelitian-penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk lebih memahami mekanisme dan memberi legitimasi sains kepada penggunaan RPDP. Dengan demikian, senyawa-senyawa aktif yang efektif untuk melawan Covid-19 dapat diketahui dan dikembangkan menjadi obat-obatan baru.

Senyawa-senyawa fitokimia yang dihasilkan oleh tumbuhan berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan antivirus baru. Hanya saja, sampai sebuah senyawa dipastikan memiliki khasiat dan dapat dipergunakan secara medis, dibutuhkan proses yang sangat panjang. Integrasi kearifan lokal/tradisional ke dalam sistem medis, seperti yang dilakukan di Cina, dapat mengakselerasi proses ini.

Pengembangan keanekaragaman hayati tumbuhan Indonesia menjadi obat-obatan antivirus baru

Indonesia merupakan negara yang memiliki tradisi menggunakan tumbuhan obat yang kuat dan sangat kaya akan keanekaragaman hayati tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber mencari obat-obatan baru. Selain tumbuh-tumbuhan yang digunakan di dalam jamu, ada banyak tumbuhan lain yang belum diketahui manfaat dan khasiatnya. Oleh karena itu, Indonesia dapat memiliki peran yang sangat strategis di dalam mencari obat-obatan antivirus baru, khususnya untuk melawan Covid-19.

Sebenarnya sudah banyak studi mengenai keanekaragaman tumbuhan di Indonesia. Salah satu contoh yang paling komprehensif adalah penelitian yang dilakukan oleh Plant Resources of Southeast Asia (PROSEA) sejak tahun 1985, yang mendata dan mengidentifikasi sekitar 6000 tumbuhan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara beberapa negara seperti Belanda, Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Data-data yang dikumpulkan dari penelitian yang dilakukan oleh PROSEA mencakup sebaran dan kegunaan medis secara tradisional, sehingga dapat dijadikan sebagai data awal untuk melakukan pemilahan tumbuhan-tumbuhan yang memiliki potensi dijadikan sumber bahan obat baru. Tumbuhan obat dan beracun sendiri telah dirangkum di dalam 3 volume buku dengan total sebanyak 1000 tumbuhan lebih sedikit.

Setelah mengidentifikasi tumbuhan-tumbuhan yang berpotensi menjadi bahan obat baru, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi kandungan aktif di dalamnya. Hal ini dapat dilakukan melalui ekstraksi dan identifikasi senyawa-senyawa di dalamnya menggunakan metode-metode berbasis kromatografi dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR), atau dikenal juga dengan metabolite profiling. Identifikasi lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengidentifikasi gen-gen yang terlibat di dalam proses biosintesis senyawa-senyawa yang telah teridentifikasi tersebut. Namun identifikasi gen-gen ini lebih terkait kepada pengembangan jangka panjang menggunakan synthetic biology, yang merupakan topik yang harus dibahas sendiri.

Senyawa-senyawa yang telah berhasil diidentifikasi kemudian digunakan di dalam uji klinis untuk melihat kemanjurannya di dalam melawan penyakit tertentu, di dalam hal ini Covid-19. Apabila uji klinis memperlihatkan hasil positif, maka senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan antiviral dikembangkan lebih lanjut menjadi obat-obatan baru.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu ditingkatkan

Langkah-langkah untuk mengkonversi nilai intrinsik keanekaragaman hayati tumbuhan menjadi obat-obatan antivirus baru membutuhkan waktu, dana, dan tenaga yang tidak sedikit. Salah satu bottleneck untuk mencari dan mengembangkan obat-obatan antivirus baru adalah rendahnya kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kendala ini dihadapi oleh Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, di mana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kurang banyak mendapatkan perhatian. Salah satu indikatornya adalah rendahnya dana yang dialokasikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, di mana sampai tahun 2013, Indonesia hanya mengalokasikan kurang dari 0.1% dari PDB untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Baru beberapa tahun terakhir ini saja Indonesia menaikkan alokasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi 0.3% dari PDB. Masih sangat kecil, bahkan apabila dibandingkan dengan negara-negara lain kawasan ASEAN, seperti Malaysia (1,4%) atau Singapura (2,1%). Terlebih lagi apabila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Korea Selatan (4,55%) atau Amerika Serikat (2,79%).

Kesempatan bagi Indonesia untuk berperan

Kondisi pandemi Covid-19 ini memberi kesempatan kepada Indonesia untuk memiliki peran di dalam menangani masalah global. Pemerintah dapat melakukan reorientasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia yang berbasis kepada kekuatan intrinsik, berupa keanekaragaman hayati tumbuhan yang dimiliki.

Pencarian dan pengembangan obat-obatan antivirus baru dari keanekaragaman hayati tumbuhan ini akan harus melibatkan banyak disiplin ilmu, dari etnobotani, sejarah, bioteknologi, kedokteran, sosial, kebijakan, dan ekonomi untuk dapat berhasil. Selain dari itu, kolaborasi internasional juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan usaha mencari obat-obatan antivirus baru ini.



Safendrri Komara Ragamustari, PhD, is Chairman and assistant professor in Science and Biodiversity Policy at the School of Government and Public Policy Indonesia.

You need to login to write a comment!