Mendorong Pemulihan Sektor Manufaktur pasca Covid-19 melalui Manajemen Energi

Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan imbas negatif kepada ekonomi global dan nasional. Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk memulihkan ekonomi adalah melalui managemen energi yang lebih baik pada sektor manufaktur.

Mendorong Pemulihan Sektor Manufaktur pasca Covid-19 melalui Manajemen Energi

Sektor manufaktur digadang-gadang menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan agar dapat bertransformasi menjadi negara maju berpendapatan tinggi. Akan tetapi pandemi Covid-19 telah menyebabkan pertumbuhan sektor manufaktur mengalami kelesuan yang terjadi secara global, tidak terkecuali di Indonesia, yang disebabkan oleh penurunan permintaan, gangguan pasokan bahan baku, gangguan transportasi, maupun pembatasan aktivitas sosial atas kebijakan kesehatan yang diberlakukan oleh hampir seluruh negara. Berdasarkan Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis oleh Bank Indonesia, pada triwulan I tahun 2020, sektor manufaktur berada dalam fase kontraksi, yaitu sebesar 45,64%, turun dari 51,50% pada triwulan IV-2019. Penurunan pertumbuhan terjadi hampir di seluruh sektor manufaktur kecuali subsektor makanan, minuman dan tembakau. Tren kontraksi juga diperkirakan akan tetap terjadi di sepanjang tahun 2020 ini. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang jitu untuk mendorong pemulihan sektor manufaktur nasional dan sekaligus meningkatan produktivitas dan daya saing secara global, salah satunya melalui implementasi manajemen energi yang akan didiskusikan dalam tulisan ini.

Kondisi sektor manufaktur sebelum Covid-19

Dalam beberapa tahun ini sektor manufaktur terus digenjot pertumbuhannya, karena terbukti sektor ini masih memberikan kontribusi besar pada perekonomian nasional. Tercatat sepanjang tahun 2019 kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 17,58%. Sayangnya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mengalami trend penurunan dibanding pencapaian di tahun-tahun sebelumnya. Penurunan kontribusi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah karena lemahnya daya kompetisi sektor industri kita.

Menurut World Economic Forum (WEF) dalam Global Competitiveness Report 2019, Indonesia menempati ranking 50 dari 140 negara. Posisi ini juga jauh dari negara pesaing kita di regional, yakni Singapura, Malaysia dan Thailand yang berada pada ranking 1, 27 dan 40. Meskipun Indonesia memiliki kekuatan dalam kapasitas pasar domestik dan kestabilan makroekonomi, namun lemah dalam bidang inovasi dan penggunaan teknologi. Hal ini juga didukung oleh hasil Competitive Industrial Performance (CIP) Index 2019 yang dikeluarkan oleh United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) yang menunjukkan posisi Indonesia berada pada ranking 38 dari 150 negara. Posisi ini jauh di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand yang berada pada ranking 12, 22 dan 25. Dari indeks CIP juga ditunjukkan bahwa salah satu kontribusi kurang bersaingnya sektor manufaktur di Indonesia disebabkan oleh rendahnya penggunaan teknologi dalam proses produksi.

Rendahnya penggunaan teknologi juga tercermin dalam indikator efisiensi energi selama proses produksi beberapa sub-sektor manufaktur terpilih yang ditunjukkan oleh tabel di bawah ini:

Beberapa sub-sektor manufaktur memang telah menggunakan teknologi yang efisien seperti industri semen, pup dan kertas, dan keramik. Namun masih banyak sub-sektor manufaktur yang menggunakan teknologi lama dan tidak lagi efisien seperti di pupuk, tekstil, besi dan baja, serta pengolahan minyak kelapa sawit. Penggunaan teknologi yang lagi tidak efisien dapat berimbas pada tiga hal; pertama menjadikan biaya energi yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar, kedua menjadikan produktivitas menjadi berkurang atau tidak optimal, dan ketiga menjadikan produk yang dihasilkan memiliki daya saing yang lebih rendah baik dari segi harga, kuantitas, dan kualitas jika dibandingkan dengan produk kompetitor.

Pandemi Covid-19 melumpuhkan sektor manufaktur

Wabah Covid-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 di China telah mengawali terganggungnya pasokan rantai suplai sektor manufaktur global dan sekaligus menurunnya permintaan atas barang produksi. Hal ini dikarenakan China telah menjadi pemain utama rantai pasok manufaktur dan sekaligus memiliki konsetrasi pasar terbesar di dunia. Menyebarnya wabah Covid-19 ke seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, menyebabkan kelumpuhan secara menyeluruh sektor manufaktur global.

IHS Markit mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia periode April berada pada level 27,5 dan Mei berapa pada level 28,6, atau paling rendah di ASEAN. Penurunan PMI ini selain karena pengaruh global, juga karena adanya kebijakan pemerintah atas penetapan protokol kesehatan yang lebih ketat untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19 yang menyebabkan penutupan fasilitas produksi dan anjloknya permintaan. Senada dengan data dari Purchasing Managers Index (PMI), Bank Indonesia merilis Prompt Manufacturing Index (PMI) yang menujukkan kinerja positif dari sektor manufaktur selama tahun 2018 hingga 2019 yang selalu berada di atas 50% jatuh cukup hingga 45,64% di triwulan pertama tahun 2020 (lihat gambar di bawah) dan diproyeksikan tetap mengalami kontraksi sepanjang tahun 2020 ini. Akibatnya, pemerintah melaporkan setidaknya hingga bulan Juni 2020 sebanyak 3,05 juta pekerja mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Pulihnya sektor manufaktur global diperkirakan oleh Baker McKenize dan Oxford Economics akan bergantung pada pulihnya China sebagai hub rantai pasok global dan keberhasilan kebijakan pengendalian penyebaran Covid-19 di masing-masing negara. Purchasing Managers Index (PMI) telah menunjukkan trend rebound terutama di China, Eropa dan Amerika Serikat dan meninggalkan titik terendahnya sejak bulan Mei 2020. Upaya untuk memulihkan ekonomi nasional juga telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui penyediaan stimulus fiskal sebesar Rp 695,2 Triliun untuk mengurangi dampak terhadap perekonomian dan kesejahteraan nasional. Dari paket stimulus tersebut, sebesar Rp. 174,18 Triliun digunakan untuk membantu pemulihan sektor manufaktur baik digunakan sebagai insentif usaha maupun pembiayaan korporasi.

Manajemen energi untuk mempercepat pemulihan sektor manufaktur

Kondisi saat ini dapat digunakan sebagai refleksi bagi pemerintah dan sektor manufaktur nasional untuk meninjau dan menata ulang kebijakan dan strategi yang terkait agar dapat mempercepat pemulihan dan meningkatkan daya saing industri nasional di kancah global. Salah satu yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah dengan dengan mendorong kebijakan implementasi manajemen energi secara menyeluruh di sektor industri. Peraturan Pemerintah No. 70/2009 memang telah mengatur industri yang menggunakan energi lebih besar atau sama dengan 6.000 BOE wajib untuk melaksanakan manajemen energi. Namun, tata laksana dari peraturan tersebut masih sangat lemah. Hal ini ditunjukkan dari hasil Global Competitiveness Report 2019 yang menyatakan bahwa orientasi pemerintah terhadap penguatan peraturan maupun implementasi terkait efisiensi energi berada pada ranking 90 dari 150 negara.

Kesadaran sektor manufaktur untuk melakukan upaya manajemen energi juga masih rendah. Berdasarkan data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada tahun 2018 telah teridentifikasi sejumlah 346 site yang dimiliki oleh 276 perusahaan di seluruh Indonesia yang memiliki kewajiban melakukan manajemen energi. Jika kita melihat trend perkembangan kepatuhan pelaporan manajemen energi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan kenaikan, kecuali di tahun 2018 yang justru menurun. Tercatat pada tahun 2017 ada sebanyak 141 site telah melaporkan upaya manajemen energinya, sedangkan pada tahun 2018 hanya menjadi 115 site yang mengirimkan laporan. Meski demikian, masih rendahnya tingkat pelaporan menunjukkan bahwa upaya manajemen energi oleh pengguna energi besar belum menjadi prioritas karena dua hal; pertama tidak adanya kebijakan insentif dan disinsentif yang diberlakukan, dan kedua karena informasi manfaat bagi perusahaan dalam menerapkan manajemen energi belum sepenuhnya dipahami dengan baik.

Melakukan manajamen energi dapat memberikan manfaat bagi sektor manufaktur, diantaranya adalah membantu meningkatkan daya saing industri, mengurangi konsumsi energi perusahaan, meningkatkan rasio biaya-manfaat dengan periode pengembalian lebih pendek untuk proyek efisiensi energi sehingga memiliki pengembalian investasi yang lebih baik, meningkatkan performa bisnis perusahaan, dan membantu pelaporan corporate sustainability (CSR). Oleh karena itu, manajemen energi harus menjadi kebijakan dasar yang berkelanjutan di setiap perusahaan manufaktur dan bukan sekedar dilaksanakan sebagai sebuah proyek. Manajemen energi dapat dilakukan dari hal yang paling dasar dan berbiaya rendah, yakni perubahan perilaku para staff dan operator dalam menggunakan energi, kemudian dapat ditingkatkan dengan investasi kecil untuk mengurangi energi terbuang dalam proses produksi. Di tingkat selanjutnya perusahaan manufaktur dapat melakukan investasi sedang hingga besar melalui adopsi teknologi terbaru yang lebih efisien baik pada peralatan proses produksi maupun untuk peralatan penunjangnya.

Meski pelaksanaan manajemen energi di sektor manufaktur sangat memungkinkan untuk dilakukan oleh swasta sendiri, namun kehadiran pemerintah masih sangat diperlukan melalui kebijakan yang dapat mendorong percepatan implementasi manajemen energi di sektor manufaktur. Kehadiran pemerintah diharapkan dapat berupa pemberlakuan kewajiban pelaksanaan manajemen energi disertai pemantauan dan pengawasannya, dan pemberian insentif dan dan disinsentif yang jelas bagi sektor manufaktur yang patuh dan tidak patuh dalam pelaksanaan manajemen energi. Pelaksanaan manajemen energi yang baik akan dapat membantu meningkatkan daya saing, dan pada akhirnya akan mempercepat proses pemulihan sektor manufaktur nasional.



adalah dosen di bidang ekonomi energi di School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia, Senior Analyst di Climate Policy Initiative (CPI), dan sekaligus anggota Dewan Pakar di Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI).

You need to login to write a comment!